Jumat, 02 Desember 2011

makalah seni musik tradisional kolintang



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
. Kolintang atau kulintang adalah alat musik khas daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Kolintang dibuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti telur, bandaran, wenang, kakinik kayu cempaka, dan yang mempunyai konstruksi fiber paralel.kolintang juga mengandung nilai-nilai religious yaitu menjadi salah satu penyebab masuknya agama Kristen di minahasa sampai sekarang . Beberapa group terkenal seperti Kadoodan, Tamporok, Mawenang yang sudah eksis lebih dari 35 tahun.Pembuat kolintang tersebar di Minahasa dan di pulau Jawa,salah satu pembuat kolintang yang terkenal Petrus Kaseke.
1.2 Rumusan masalah
  • Bagaimana sejarah perkembangan dari MUSIK TRADISIONAL KOLINTANG ?
  • Sebutkan jenis-jenis alatnya dan Bagaimana cara memainkanya ?
  • Siapa saja tokoh-tokohnya ?
  • Group music kolintang ?
1.3 Tujuan
Kami membuat makalah ini dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata pelajaran SENI MUSIK dan untuk belajar tentang MUSIK TRADISIONAL KOLINTANG.
  • Untuk mengetahui sejarah dari KOLINTANG
  • Untuk menambah pengetahuan tentang music tradisional
  • Untuk agar lebih mengenal siapa tokoh dari music tradisonal kolintang
  • Agar kita tahu jenis-jenis alat musiknya
  • Agar kita bisa tahu cara memainkanya


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SEJARAH & PERKEMBANGANNYA
Kolintang merupakan alat musik khas dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai bahan dasar yaitu kayu yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar).
Kata Kolintang berasal dari bunyi : Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi) dan Tang (nada tengah). Dahulu Dalam bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain kolintang: "Mari kita ber Tong Ting Tang" dengan ungkapan "Maimo Kumolintang" dan dari kebiasaan itulah muncul nama "KOLINTANG” untuk alat yang digunakan bermain.
Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemainnya dengan posisi duduk di tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus kedepan. Dengan berjalannya waktu kedua kaki pemain diganti dengan dua batang pisang, atau kadang-kadang diganti dengan tali seperti arumba dari Jawa Barat. Sedangkan penggunaan peti sesonator dimulai sejak Pangeran Diponegoro berada di Minahasa (th.1830). Pada saat itu, konon peralatan gamelan dan gambang ikut dibawa oleh rombongannya. Adapun pemakaian kolintang erat hubungannya dengan kepercayaan tradisional rakyat Minahasa, seperti dalam upacara-upacara ritual sehubungan dengan pemujaan arwah para leluhur. Itulah sebabnya dengan masuknya agama kristen di Minahasa, eksistensi kolintang demikian terdesak bahkan hampir menghilang sama sekali selama ± 100th.
Sesudah Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat "string" seperti gitar, ukulele dan stringbas.
Tahun 1954 kolintang sudah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan. Saat ini Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh.
SEJARAH KOLINTANG
Kolintang merupakan nama alat musik gong perunggu abad 17 di Sulawesi Utara, Sumatra dan Filipina Selatan yang tersebar melalui perdagangan antar pulau melalui jalur perdagangan sutra. Pusat perdagangan Internasional adalah Ternate dan Tidore sebagai penghasil rempah-rempah pala dan cengkih. Jalur perdagangan selatan dari pantai Timur India pelabuhan Cambaya, Sumatra Utara, Malaka, pantai Utara pulau Jawa lalu ke Ternate Tidore. Jalur perdagangan Utara dari India ke Malaka, Brunei, Filipina selatan, Sulawesi Utara, lalu ke Ternate dan Tidore.

Kolintang gong kemungkinan telah tiba di Minahasa melalui Ternate dari kerajaan Majapahit (1350-1389) yang armada pelayarannya sudah sampai dikepulauan Sangihe dan Talaud. Yang sudah tercatat dalam buku negara Kartagama ditulis : ”Uda Makat raya dinikanang sanusa pupul” (1*) mungkin juga dari Cina karena pulau Siauw telah tercatat dalam peta pelayaran Cina di buku ” Shun Feng Hsin Sung” ditulis oleh SHAO (2*) awal abad ke 15.
Tahun 1972 penulis membawa MOMONGAN ( Gong perunggu ) asal Tomohon di Minahasa yang retak, untuk diperbaiki di Yogyakarta, pengrajin Gong di Yogyakarta, mengatakan bahwa campuran timah dan tembaga gong tersebut menunjukkan ciri khas buatan kerajaan Belambangan dari Jawa Timur (Ditaklukkan Mataram pada tahun 1639).
Beberapa penulis bangsa barat yang menulis mengenai Minahasaawal abad ke 19 memberi data mengenai alat musik KOLINTANG Minahasa terbuat dari bahan logam dan bukan dari kayu. Penulis J. Hickson mencatat sebagai berikut (3*) ...the party next return to the house, the gong kolintang are sounded ( terjemahan bebas : …peserta pesta upacara kemudian kembali kerumah, dan gong kolintang lalu dibunyikan.) Selanjutnya penulis J. Hickson menceritakan mengenai Mapalus dan lebih menjelaskan bahwa kolintang itu gong (4*) ...Mapalus bieting Gongs / Kolintang (Terjemahan bebas : ...Pekerja Mapalus memukul Gong / Kolintang ). Nada – nada Kolintang Gong ditulis oleh N.Graafland dalam bentuk solmisasi, do – mi – sol – mi ... la – do – fa – si , ada gong besar dengan nada fa rendah (5*)
(1*) Bandar jalur sutra – dept. P&K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 108)
(2*) Bandar Jalur Sutra – Dept. P&K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 109)
(3*) Naturalist in North Celebes – London 1889 (J. Hickson, halaman 292)
(4*) Naturalist in North Celebes – London 1889 (J. Hickson, halaman 234)
(5*) De Minahasa, eerste deel – Batavia 1898 (N.Graafland, halaman 357)
Alat musik kolintang gong Minahasa jaman tempo dulu dapat kita lihat pada gambar sketsa buku Ethnographisce Miezelen Minahasa Celebes, A. Meyer and O. Ritcher di Museum Dresden 1902. Gambar penari Kabasaran memakai tombak, di iringi musik kolintang gong yang nampak disebelah kanan bawah, seorang duduk menghadapi kolintang yang terdiri dua deret gong masing – masing satu deretan terdapat lima gong. Kolintang Gong ini masih dapat di temukan di Airmadidi bawah wilayah Tonsea milik Ny. Kilapong dan Ny. Doodoh yang hingga kini musik MAOLING digunakan mengiringi tari MAPURENGKEY pada upacara perkawinan (6*). Apabila kita kumpulkan nama instrumen alat musik Gong di wilayah Nusantara dan Filipina, yang mirip dengan kata KOLINTANG akan terlihat sebgai berikut :
KOLINTANG : Nama alat musik Gong di Minahasa.
GOLINTANG (GORINTANG) : Nama alat musik di Bolaang – Mongondouw.
KELINTANG : Nama alat musik Gong di Sumatra yang di jadikan perbandingan nama KOLINTANG oleh penulis N.Graafland sebagai berikut (8*): ...De KOLINTANG (Minahasa) op Sumatra heet zij KULINTANG (Terjemahan bebas : ...KOLINTANG (Minahasa) di Sumatra bernama KULINTANG.
KULINTANG : Nama alat musik Gong di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra (9*)
Dari nama-nama leluhur Minahasa jaman lampu seperti, Lintang, Lumintang, Lantang, Lintong, yang berhubungan dengan nama alat musik gong dan keterangan bunyi alat musik logam tersebut, TANG, TONG. Menunjukkan bahwa alat musik gong KOLINTANG itu sudah lama dikenal orang Minahasa, yang jaman tempo dulu punya nilai yang tinggi dimasyarakat dan hanya pemimpin masyarakat yang memiliknya yakni dari golongan TONAAS dan WAILAN. Dapat diambil kesimpulan bahwa leluhur (Opo’) yang mengambil nama dari alat musik Gong ini memiliki status sosial yang tinggi dimasyarakat.
Satu buah alat musik Gong dinamakan ”Momongan”, satu deretan momongan disebut KOLINTANG terdiri dari lima Gong (Penthatonis), Gong besar disebut ”Antung” atau ”Rambi”. Orkes musik MAOLING terdiri dari : Kolintang (Melodi), Momongan, Antung (Bass), Suling dan Tambor (Letek).
Ceritra rakyat Minahasa mengenal Dewa alat musik ketuk Xylophone dari kayu (kolintang kayu ) bernama TINGKULENGDENG yang mengetuk-ngetuk bilah kayu (10*) satu masa hidup dengan dewa MUNTU-UNTU abad ke tujuh (11*)
  • Hasil survey Koleksi Museum daerah Kebudayaan Minahasa. Kanwil.P&K.1982.
  • Majalah Filipina ”Quarterly” September.1975.
  • De Minahasa, N.Graafland.eerste deel. Batavia.1989.
  • Buku Objek Wisata kabupaten Komering Ulu.Cetakan 1990.
  • Toumbulusche Pantheon.DR.J.G.F.Riedel.Berlin.1894.
  • De Watu Rerumeran ne Empung Dr.J.G.F.Riedel.1897.190
Kemudian ada dewa alat musik gong bernama KOLANTUNG (Antung = Gong besar) namanya tidak terdapat dalam daftar dewa-dewi tulisan DR.J.G.F.Riedel, kemungkinan masa hidupnya setelah abad ketujuh.
Kolintang Kayu.
Alat musik pukul (Diophone) Kolintang Minahasa sekarang ini berbentuk xylophone kayu dengan tangga nada diatonis (do – re – mi – fa – so – la – si – do ). Karena alat musik kolintang Minahsa sekarang ini terbuat dari kayu dan bukan dari bahan logam seperti jaman tempo dulu, maka kita perlu meneliti alat musik pukul (Diaphone) Minahasa dari bahan kayu atau bambu. Bahan data sudah sangat sulit ditemukan, hingga harus kembali meneliti semua alat bunyi-bunyian Minahasa yang terbuat dari kayu atau bambu seperti TETENGKOREN berbagai jenis dan TENGTENGEN. Xylophone bambu yang disebut TENGTENGEN (12*) adalah satu-satunya alat musik purba Minahasa yang masih ada dan pernah dilihat oleh penulis di Tomohon tahun 1956.
Hasil penelitian alat musik Xylophone bambu dan kayu Minahasa tertulis dalam kertas berjudul perkembangan Instrumen musik kolintang pada pusat latihan kesenian Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, proyek peningkatan mutu, pelatih seni budaya tahun 1991. BAB.Kolintang Tritonis. Dalam bentuk ceramah pada workshop pelatih musik kolintang se-DKI.1991.

Dalam makalah ini saya perbaiki lagi karena pengertian KOLINTANG TRITONIS adalah musik gong, seharusnya TENGTENGEN TRITONIS yang terdiri dari tiga potong bambu bernada do (1), re (2), mi (3) diletakkan diatas dua batang pisang yang diletakkan sejajar lalu diketuk-ketuk dengan sepotong kayu. Dinamakan musik kobong (kebun) karena hanya dimainkan dikebun oleh petani ketika istirahat makan siang sekitar jam 11.00
(12*) Kamus Tombulu – Minahasa .H.M.Taulu.1971
Not dimankan sebagai berikut
Irama 4/4 3 / 33 33 3 01 / 22 31 2 03 / 1 . 1 1 // 22 22 2 0 / 0 dimainkan berulang-ulang
Tapi apabila dimainkan oleh tiga orang, maka alat musik itu ada tiga buah dengan d nada berbeda, alat musik pertama disebut INA’ (ibu) mengambil alihfungsi melodi, alat kedua disebut KARUA dan alat ketika disebut KATELU atau LOWAY.
Kemungkinan besar not Tritonis asli Minahasa purba adalah : Do (1), re (3), mi (3) dan nada tritonis : mi (3), sol (5), la (6) adalah pengaruh nada kolintang gong. Asal nama – nama INA’ (Ibu), KARUA dan LOWAY ( bayi lelaki) kemungkinan besar dari nama – nama ukuran TETENGKOREN, yang kecil disebut ’INA, yang sedang disebut KARUA atau AMA’ (ayah) yang besar disebut LOWAY (anak) berhubungan erat dengan nama – nama leluhur pertama Minahasa LUMIMUUT (ibu) dan TOAR (anak, sekaligus suami). Menurut para supranatural lobang tetengkoren itu simbol kemaluan wanita. Mengapa Ibu itu utama dan lebih kecil dari anak, para supranatural menjelaskan menjelaskan menurut logika mereka, Lipan (kakisaribu) besar dinamakan KARAMKAN dengan sebutan ”Salina ni Karema” (selimut dewi karema) dan binatang kecil yang dinamakan ”Anjing Tanah” yang besarnya seperempat dari Lipan(kakisaribu) mendapat sebutan ”Ina’ni Kama” (Ibu dari kakisaribu).
Susunan lengkap alat musik ”Orkes Kobong” TENGTENGEN. Lagu yang dimainkan oleh TENGTENGEN – INA’ yang berirama walz sering di ikuti oleh beberapa wanita tua peserta mapalus menari :
¾ Walz pengaruh Spanyol.5 / 6 6 5 / 3 3 5 / 6 6 5 / 3 3 3 / 3 3 3 // 5 3 3 / berulang – ulang
Keberadaan musik TENGTENGEN – KAYU dari bahan kayu ” Wu’nut ” hanya tinggal nama disebut ”Kolintang wu’nut” bertangga nada Penthatonia (liam nada) dari bilah – bilah kayu. Ada informasi bahwa ”musik Kobong ” terbuat dari kayu pernah dimainkan oleh orang-orang tomohon yang menyingkir ke gunung Tampusu, dan penduduk Airmadidi yang menyingkir ke kaki Gunung Kalabat ketika Jepang masuk ke Minahasa tahun 1942 – 1943 jaman perang dunia ke – II.
Hingga sekarang ini Xylophone kayu TENGTENGEN masih dimainkan para petani dikebun ladang atau sawah di wilayah Tonsea Minahasa Utara. Jantje Dungus menjelaskan bahwa potongan kayu bilah-bilah nadadisebut PAMENGKELAN dan nama sepotong kayu sebagai alat pemukul di sebut TE-TENGTENG.
Nama alat musik Xylaphone kayu bertangga nada Penthatonis Minahasa tidak lagi diketahui, hanya disebut ” Kolintang Wu’nut”, di Jakarta dinamakan GAMBANG bertangga nada penthatonis : do (1), re (2), mi (3), sol (5), la (6) seperti lagu Gambang Kromong Benyamin.S. berjudul ”Ondel-Ondel” di Filipina disebut GABBANG.
Tangga nada penthatonis Minahasa hanya dapat ditelusuri melalui penelitian lagu-lagu tua Minahasa yang bertangga nada penthatonis OWEY dan Penthatonis ROYOR. Ada kebingungan untuk menentukan mana yang OWEY dan man yag ROYOR, tapi dengan bantuan seorang pakar tari maengket Bapak Titus Loho dapat ditentukan bahwa Penthatonis ROYOR bertangga nada : do (1), re (2), mi (3), sol (5), la (6) pengaruh tangga nada kolintang gong, dan tangga nada Penthatonis OWEY : mi (3), sol (5), la (6), si (7), do (1). Dapat dipastikan ada dua jenis ” Kolintang Wu’nut ” (Kolintang kayu) yang dimainkan pada upacara yang berbeda, tari ” Kumoyak” oleh kabasaran menggunakan Tangga nada Penthatonis ROYOR :
(13) Jantje Dungus, Suwaan Tonsea. 28 mei 2007.
2.2 JENIS-JENIS ALAT MUSIK KOLINTANG DAN CARA MEMAINKANYA
Alat musik kolintang termasuk jenis instrument perkusi yang berasal dari Minahasa Sulawesi Utara.
Alat musik itu disebut kolintang karena apabila di pukul berbunyi : Tong-Ting –Tang.

Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemain yang duduk selonjor di lantai.dan dipukul pukul.
Fungsi kaki sebagai tumpuan bilah bilah kayu(wilahan/tuts) kemudian diganti dua potong batang pisang atau dua utas tali. Konon penggunaan peti resonator sebagai pengganti batang pisang mulai di gunakan sesudah Pangeran Diponegoro di buang ke Menado (tahun 1830) yang membawa serta “gambang” gamelannya.
Dahulunya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemain yang duduk membujur lurus ke depan di atas tanah. Kemudian kedua kaki pemain diganti dengan batang pisang atau kadang-kadang diganti dengan tali. Penggunaan peti resonator mulai diterapkan pada saat Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado tahun 1830, konon peralatan gamelan ikut dibawa rombongan ini.
Pada mulanya kolintang terdiri dari satu melodi dengan susunan nada diatonis, berjarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat string seperti gitar, ukulele, dan stringbas. Tahun 1954 kolintang dibuat 2 setengah oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah naik menjadi tiga setengah oktaf (1 kruis, naturel, dan 1 mol) dan bisa dimainkan 2 orang pada satu alat. Pengembangan musik kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan. Saat ini kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 oktaf dengan chromatisch penuh.
Sebuah kolintang mempunyai 14-21 bilah kayu yang panjangnya sekitar 30-100 cm. Kayu yang lebih pendek menghasilkan tangga lagu (not) yang tinggi, sebaliknya kayu yang panjang menghasilkan not yang rendah. Kayunya adalah kayu lokal seperti, kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya disusun agar membentuk garis sejajar). Dalam perkembangannya saat ini, kayu yang bagus digunakan adalah kayu waru gunung dan kayu cempaka.
Kolintang sendiri ada 4 tipe, yaitu: soprano, alto, tenor, dan bas.
Permainan musik kolintang tidaklah individual. Dibutuhkan minimal 6 orang pemain musik, lebih lengkapnya dibutuhkan 9 orang. Satu set kolintang terdiri dari: melodi (kolintang 1), pengiring  kecil (banjo kolintang), pengiring menengah (ukulele kolintang), pengiring besar 1 (gitar kolintang 1), pengiring besar 2 (gitar kolintang 2), bas kecil (sello kolintang), bas normal (bas kolintang), selain itu juga dilengkapi kotak dan pemukul serta tutup kolintang.
Perkembangan kolintang tampil sebagai alat musik tradisional Indonesia di dunia cukup baik. Banyak kelompok musik yang memainkan kolintang di luar seperti Singapura, Australia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara lainnya. Pemesanan terhadap kolintang pun banyak berdatangan dari luar seperti Australia, Cina, Korea Selatan, Hong Kong, dan lain-lain. Permainan musik kolintang banyak ditampilkan untuk pagelaran-pagelaran seni, pesta pernikahan, upacara penyambutan, peresmian, pengucapan syukur, dan acara pertandingan. Harmoni dari berbagai nada terdengar indah dan memukau pendengarnya.
Setiap alat memiliki nama yang lazim dikenal. Nama atau istilah peralatan Musik kolintang selain menggunakan bahasa tersebut diatas juga memiliki nama dengan menggunakan bahasa Minahasa, dan untuk disebut lengkap alat alat tersebut berjumlah 9 buah. Tetapi untuk kalangan professional, cukup 6 buah alat sudah dapat memainkan secara lengkap. Kelengkapan alat tersebut sebagai berikut:
B - Bas = Loway C - Cello = Cella T - Tenor 1 = Karua - Tenor 2 = Karua rua A - Alto 1 = Uner - Alto 2 = Uner rua U - Ukulele = Katelu M - Melody 1 = Ina esa - Melody 2 = Ina rua - Melody 3 = Ina taweng.




Petrus kaseke menamakan alat alat kolintang berdasarkan karakteristik suara dan rentang nada:
1.Melody sebagai penentu lagu
2.Alto sebagai pengiring (accompanion) bernada tinggi
3.Tenor sebagai pengiring (accompanion) bernada rendah
4.Cello sebagai penentu irama dan gabungan accompanion dengan bass
5.Bass sebagai penghasil nada nada rendah.
Alasan pemberian nama diambil dari pengalamannya memimpin paduan suara dimana suara perempuan yang tinggi dan suara laki laki yang lebih rendah dibagi menjadi : sopran,alto,tenor dan bass.
Evert van lesar : dari Ikatan Pelatih Musik Kolintang Jakarta pada tahun 1996 mempopulerkan nama nama alat kolintang yang menggali dari bahasa daerah di Minahasa seperti:
Melody= Ina taweng artinya “ibu”
Tenor = Karua artinya "kedua”
Alto = katelu artinya “ketiga”
Cello = sella
Bass = loway artinya “anak laki laki yang berbadan besar”
Penamaan alat kolintang versi lainnya adalah dengan substitusi dari alat musik yang sudah ada.
Tenor = gitar ( dengan wilayah nada yang di tone sepadan dengan senar gitar terendah dan tertinggi)
Alto = Banjo (ukulele)



MELODY
Fungsi pembawa lagu, dapat disamakan dengan melody gitar, biola, xylophone, atau vibraphone. Hanya saja dikarenakan suaranya kurang panjang, maka pada nada yang dinginkan; harus ditahan dengan cara menggetarkan pemukulnya( rall). Biasanya menggunakan dua pemukul, maka salah satu melody pokok yang lain kombinasinya sama dengan orang menyanyi duet atau trio (jika memakai tiga pemukul). Bila ada dua melody, maka dapat digunakan bersama agar suaranya lebih kuat. Dengan begitu dapat mengimbangi pengiring (terutama untuk Set Lengkap) atau bisa juga dimainkan dengan cara memukul nada yang sama tetapi dengan oktaf yang berbeda. Atau salah satu melody memainkan pokok lagu, yang satunya lagi improvisasi.


CELLO
Bersama melody dapat disamakan dengan piano, yaitu; tangan kanan pada piano diganti dengan melody, tangan kiki pada piano diganti dengan cello. Tangan kiri pada cello memegang pemukul no.1 berfungsi sebagai bas, sedangkan tangan kanan berfungsi pengiring (pemukul no.2 dan no.3). Maka dari itu alat ini sering disebut dengan Contra Bas. Jika dimainkan pada fungsi cello pada orkes keroncong, akan lebih mudah bila memakai dua pemukul saja. Sebab fungsi pemukul no.2 dan no.3 sudah ada pada tenor maupun alto.
TENOR I & ALTO I: Keenam buah pemukul dapat disamakan dengan enam senar gitar.
TENOR II (GITAR) :Sama dengan tenor I, untuk memperkuat pengiring bernada rendah.




ALTO II & BANJO: Sebagai ukulele dan "cuk" pada orkes keroncong.
ALTO III (UKULELE) : Pada kolintang, alat ini sebagai ‘cimbal’, karena bernada tinggi. Maka pemukul alto III akan lebih baik jika tidak berkaret asal dimainkan dengan halus agar tidak menutupi suara melody (lihat petunjuk pemakaian bass dan melody contra).
BASS : Alat ini berukuran paling besar dan menghasilkan suara yang paling rendah.






SUSUNAN ALAT
Lengkap (9 pemain) : Melody - Depan tengah Bass - Belakang kiri Cello - Belakang kanan Alat yang lain tergantung lebar panggung (2 atau 3 baris) dengan memperhatikan fungsi alat (Tenor & Alto).
NADA NADA DASAR
Nada nada dalam alat kolintang sebagai berikut:

C = 1 3 5 Cm = 1 2 5
D = 2 4 6 Dm = 2 4 6
E = 3 5 7 Em = 3 5 7
F = 4 6 1 Fm = 4 5 1
G = 5 7 2 Gm = 5 6 2
A = 6 1 3 Am = 6 1 3
B = 7 2 4 Bm = 7 2 4
Sedangkan chord lain, yang merupakan pengembangan dari chord tersebut diatas, seperti C7 = 1 3 5 6, artinya nada do diturunkan 1 nada maka menjadi le . Sehingga saat membunyikan 3 bilah dan terdengar unsur bunyi nada ke 7 dalam chord C, maka chord tersebut menjadi chord C7. Demikian pula dengan chord yang lain.
CARA MEMEGANG PEMUKUL/ STICK KOLINTANG
Memegang Pemukul Kolintang, memang tidak memiliki ketentuan yang baku, tergantung dari kebiasaan dan kenyamanan tangan terhadap stik. Tetapi umumnya memegang stick kolintang dilakukan dengan cara :
No.1 Selalu di tangan kiri
No.2 Di tangan kanan (antara ibu jari dengan telunjuk)
No.3 Di tangan kanan (antara jari tengah dengan jari manis) .
Agar pemukul no.2 dapat digerakkan dengan bebas mendekat dan menjauh dari no.3, sesuai dengan accord yang diinginkan. Dan cara memukul dan disesuaikan dengan ketukan dan irama yang diinginkan, dan setiap alat memiliki, ciri tertentu sesuai fungsi didalam mengiringi suatu lagu. Pada alat Bass dan alat Melody umumnya hanya menggunakan 2 stick, sehingga lebih mudah dan nyaman pada tangan. ( Nomor nomor tersebut diatas telah tertera disetiap pangkal pemukul stick masing masing alat kolintang)
Teknik Dasar memainkan stick pada bilah kolintang sesuai alat dan jenis irama
Dari sekian banyak irama dan juga lagu yang ada, beberapa lagu sebagai panduan untuk memainkan alat musik kolintang disertakan dalam materi ini.
Seperti: • Sarinande • Lapapaja • Halo halo Bandung • Besame Mucho Lagu lagu tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda baik chord dan irama. Lagu lagu tersebut telah dilengkapi dengan partitur serta chord/ accord untuk memudahkan memahami alat musik kolintang.
Demikian pula dengan teknik memukulkan stick pada bilah kolintang. Karena sesuai irama yang beraneka ragam, maka untuk menghasilkan irama tertentu maka teknik memukulkan stik pada tiap alat pun berbeda beda. Pada materi ini, diberikan teknik teknik dasar cara memukulkan stick pada kolintang. Untuk dapat memahami teknik, dibutuhkan pengetahuan akan harga dan jumlah ketukan dalam setiap bar nada. Dan berbekal pengetahuan dasar dasar bermain kolintang ini saja, ditambah dengan bakat individu, maka grup/ kelompok musik kolintang telah dapat memainkan berbagai jenis lagu dengan tingkat kesulitan yang variatif secara spontan.
2.3 Tokoh Music Tradisional Kolintang
  • Nelwan Katuuk
Adalah seniman tuna netra asal Minahasa bagian utara yang merangkai nada kolintang menurut skala diatonis. Orang inilah yang mempopulerkan kolintang lewat siaran RRI minahasa. Nelwan Katuuk lahir pada tanggal 30 maret 1920, pada usia 12 tahun telah menjadi pemukul kolintang perunggu (Gong) untuk memanggil para pekerja Mapalus. Dia menggunakan nada (14*)/.
Pada usia 20 tahun Nelwan sudah dapat memainkan biola dan alat musik Hawaien, tapi kedua alat musik itu sudah sangat sulit ditemukan di Minahasa. Lalu seseorang bernama William Punu membuat alat musik Xylophone kayu (Tetengen) bertangga nada diatonis untuk dimainkan sebagai melodi menggantikan Hawaien (15*).
Tahun 1943 setelah Jepang mendarat di Minahasa pada perang dunia ke-II, seorang Jepang memberikan alat musik Hawaien, sehingga Nelwan Katuuk menggunakan tiga alat musik sebagai melodi dalam pertunjukan musiknya. Xylaphone dari kayu Wanderan yang kemudian disebut kolintang kayu, biola dan hawaien, kelompok musiknya dinamakan ”NASIB” denga anggota: (16*)

  • Petrus Kaseke
Kolintang yang merupakan alat musik tradisional rakyat Minahasa sempat dilarang dimainkan pada masa penjajahan Belanda. Pasalnya, kolintang pada awalnya digunakan untuk mengiringi upacara ritual pemujaan arwah leluhur oleh masyarakat setempat.Selama seabad lebih, eksistensi kolintang semakin terdesak dan hampir punah. Baru setelah Perang Dunia II, sekitar tahun 1952, seorang tunanetra bernama Nelwan Katuuk menghadirkan kembali instrumen musik ini lewat pagelaran musik yang disiarkan RRI Minahasa.
Permainan kolintang dari Nelwan Katuuk ternyata menginspirasi seorang bocah laki-laki berumur 10 tahun dari Ratahan, Minahasa Utara, untuk membuat alat musik kolintang. Cita rasa bermusik dari lingkungan keluarganya yang membentuk kepekaannya terhadap nada berpadu dengan keterampilan menukang kayu yang diperolehnya dari sang kakek.
Hasilnya, pada tahun 1954 sang bocah berhasil membuat kolintang dengan dua setengah oktaf nada diatonis. Dengan petunjuk sejumlah orang tua yang pernah mendengar bunyi alat musik kolintang, ia terus belajar dan mengembangkan instrumen ini hingga bisa menciptakan tangga nada sampai tiga setengah oktaf  pada tahun 1960.
Dialah Petrus Kaseke, putra tunggal Pendeta Yohanes Kaseke dan almarhum Adelina Komalig. Korelasi tingginya kepekaan terhadap nada dengan tingginya tingkat kecerdasan tampaknya terbukti pada diri Petrus Kaseke. Meski hidup dari keluarga kurang mampu, di usianya ke-20, Petrus meraih predikat pelajar berprestasi dan memperoleh beasiswa dari Bupati Minahasa untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.
Beasiswa yang saya terima waktu itu Rp 1.000, hanya cukup untuk biaya kos dan makan selama tiga bulan. Di saat kondisi perekonomian sangat labil, inflasi meningkat tajam hingga ada kebijakan pemotongan uang Rp 1.000 menjadi Rp 1, saya bertahan hidup dengan main musik kolintang di Yogyakarta,” kenang Petrus, saat ditemui di rumahnya di Jalan Osamaliki 4 Salatiga, Jawa Tengah, pekan lalu.
Kala itu kolintang belum banyak dikenal di Pulau Jawa. Di luar dugaan, sambutan publik terhadap kehadiran kolintang yang diiringi gitar, ukulele, dan string bas ini ternyata luar biasa. Bahkan, kolintang saat itu sempat menjadi salah satu media kampanye Partai Kristen Indonesia (Parkindo) sehingga ia dan rekan-rekannya menerima banyak job bermain musik kolintang.
Beban hidup semakin berat, merantau seorang diri di tanah Jawa, sementara beasiswa dari bupati juga diputus. Setelah enam tahun dan baru meraih sarjana muda, Petrus terpaksa tak melanjutkan kuliahnya. Kondisi ini justru membuat Petrus semakin berketetapan hati menggeluti alat musik kolintang. ”Saya memulai usaha membuat kolintang bermodalkan ’dengkul’. Uang yang saya peroleh selama mementaskan kolintang, saya gunakan untuk modal usaha,” kata suami dari Tjio Kioe Giok (62) ini.
Waktu terus berlalu, usaha Petrus semakin berkembang. Ia juga memiliki kelompok musik yang sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia, seperti Singapura (1970), Australia (1971), Belanda dan sekitarnya, hingga di Jerman Barat (1972), Amerika Serikat dan Inggris (1973), serta Swiss, Denmark, Swedia, dan Norwegia (1974). Pada tahun-tahun itu pula, ia hijrah ke Salatiga dan membangun usahanya di sana. ”Bahan baku kolintang berupa kayu waru mudah didapatkan di sekitar Rawapening sehingga saya memilih membuka usaha di Salatiga. Kayu ini kualitasnya tidak kalah dengan kayu telur, bandaran, wenang, dan kakinik dari Minahasa. Selain ringan, serat kayunya cukup padat dan membentuk garis sejajar sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring,” ujar bapak dua anak, Leufrand Kaseke (26) dan Adeline Kaseke (22). Di era 1989 hingga 1990-an, alat musik kolintang sangat populer bagi masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri. Pembuat kolintang pun mulai menjamur. Dalam sebulan Petrus bisa melayani pembuatan alat musik kolintang hingga 10 set. Kala itu ia bisa mempekerjakan sekitar 20 tukang kayu untuk membuat instrumen ini. Pemesanan dari luar negeri terus mengalir, antara lain dari Australia, China, Korea, Hongkong, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengoleksi alat musik kolintang buatannya.
Era krisis moneter akhir tahun 1990 ternyata juga menandai jatuhnya industri alat musik kolintang. Satu per satu perusahaan alat musik kolintang rontok, bangkrut. Petrus menjadi salah satu dari sekian perajin alat musik kolintang yang masih bertahan meski pemesanan anjlok, hanya berkisar 1-2 set per bulan.
Dari sisi harga, kolintang yang saya jual memang relatif lebih mahal daripada produksi di pasaran.  Namun, ketepatan nada dan kualitas bunyi menjadi resep Petrus masih bisa bertahan usahanya hingga saat ini. Bahkan saat ditemui di rumahnya, ia tengah menyelesaikan pesanan dari Australia.
Ketepatan nada masih bisa tertolong dengan adanya komputer pengukur nada. Tetapi, untuk kualitas bunyi, tetap perlu kepekaan telinga dan keahlian memilih bahan baku. Meski nada sudah tepat, bila kualitas bunyinya tidak baik, batang kayu tersebut langsung saya buang,” kata pria kelahiran Ratahan, 2 Oktober 1942, ini.
Kepiawaian Petrus membuat alat musik tradisional Minahasa yang hampir punah ini memang belum pernah mendapat penghargaan yang sebanding dengan sepak terjangnya selama ini. Ia memang bukan satu-satunya perajin alat musik kolintang yang masih bertahan. Namun, di tangan dia jua, alat musik ini mulai merebak ke Pulau Jawa dan merambah seantero dunia.




2.4 GROUP MUSIK KOLINTANG
  • KOLINTANG BAND
Bentuk ”Kolintang Band” pertama muncul diwilayah tonsea Minahasa sekitar tahun 1940-an, menurut Bapak Alfred Sundah (1990) para pemusik kolintang Band Tonsea masih malu-malu karena menggunakan alat musik melodi dari kayu buatan mereka sendiri. Tapi NELWAN KATUUK tidak peduli bahkan menikmati orkes musik yang baru ini justru karena dia Tuna Netra.
Yang menamakan Xylophone kayu dengan sebutan KOLINTANG bukanlah NELWAN KATUUK tetapi masyarakat Tonsea, hingga muncul dua istilah yakni kolintang kayu dan kolintang tembaga (Gong).
Dengan komposisi peralatan musik seperti inilah jenis musik kolintang band menjadi terkenal di masyarakat Minahasa, Xylaphone kayu buatan sendiri, lagu cipataan sendiri dan aransemen lagu dibuat sendiri, kreasi musik tidak tergantung pada siapapun.
Lahirnya musik kolintang band tidak telepas dari karya musik Nelwan Katuuk yang membuat alat musing Xylophone kayu bertangga nada diatonis yang akhirnya menjadi terkenal diseluruh Minahasa.
Nelwan Katuuk : Melodi merangkap Penyanyi
Daniel Katuuk : Gitar akustik
Budiman : String bass
Lontoh Katuuk : Jukulele
Tahun 1945 menciptakan lagu instrumentalia diberi judul ”Mars New Ginea” mendapat ilham dari kekalahan Jepang di Papua (Irian) oleh sekutu (Amerika-Autralia), pada tahun 1957 lagu ini sering didengarkan di radio Australia dengan nama ”Cipson”.
Kelompok musik kolintang band lainnya yang terkenal dimasyarakat Minahasa pada peride itu bernama ”Tumompo Tulen” :
Leser Putong : Melodi
Bibi Putong : String Bass
Wakkari Tuera : Gitar akustik
Usop : Jukulele
Doortje Rotty : Penyanyi
Kolintang band ini dan lainnya tidak menciptakan lagu dan hanya mengisi acara hiburan musik, hingga karya musiknya tidak menembus jaman menuju keabadian seperti karya musik dan lagu Nelwan Katuuk.
Sekitar tahun 1950-an kolintang band mendapat sebutan nama lain yakni orkes kolintang, tapi dalam penampilannya lebih populer disebut ”Kolintang Engkel” Karena hanya menggunakan satu alat kolintang kayu berfungsi sebagai melodi (17*)
Orkes kolintang kemudian mulai berkembang sampai keluar Minahasa. Antara lain di Bandung bernama kolintang ”Maesa Bandung” tahun 1959 pimpinan Hannes Undap. Melodi : Nico Koroh
Gitar Akustik : Reni Mailangkai
Jorry Mowilos
Jukulele : Ferdie Lontoh
Ben Makalew
String Bass : Jessy Wenas
Penyanyi : Elly Doodoh
Winter Sisters
Karena alat musik kolintang yang dipesan dari Manado tidak punya kaki, maka dalam pertunjukan pentas kolintang diletakkan pada dua buah kursi.

  • Orkes Kolintang
Walaupun sudah berganti nama orkes kolintang periode 1950 – 1964, tetapi penampilannya masih mirip kolintang band, dan sudah mulai menggunakan nada ½ (setengah) : di – ri – fi – sel – le .
Para pemain melodi kolintang kayu pada periode ini antara lain (18*) :
1. Janjte Dungus (Suwaan – Tonsea) Kolintang ” Karpilo”
2. Josep Iwi Sundah (Lembean)
3. Gustaaf Warouw (Tomohon) Kolintang ”Rayuan Masa”
4. Bert Rako (Kakaskasen – Tomohon)
5. Worang Ransun (Maumbi – Tonsea )


Kolintang Tamporok adalah salah satu grup musik tradisional Indonesia yang berasal dari Minahasa Sulawesi Utara. Tamporok berasal dari bahasa Tonsea dan memiliki arti NAMA GUNUNG TERTINGGI di Sulawesi Utara yaitu gunung Klabat adalah puncak gunungnya diambil dari Bandara Samratulangi. Group ini Berdiri tgl 19 Mei 1975 di Jakarta dan masih eksis hingga saat ini. memiliki rekaman baik lagu lagu daerah Minahasa dan juga album Natal dan Rohani..
personil group adalah:
Berty Rarun



TAMPOROK terdiri dari:
  • Boy Makalew – Melody
  • Berty Rarun – Bass
  • Lexy – Banyo
  • Julius Mongdong – Gitar 2
  • Ambrosius Loho – Alto






  • Jantje Posumah – Juke
  • Felix Luntungan – Gitar 1
  • Denny Mautofani – Bass&Gitar
  • Martje Lengkong – Penyanyi




BAB III
PENUTUP



3.1 KESIMPULAN
Music tradisional Kolintang adalah music perkusi yang berasal dari Minahasa, Sulawesi utara. Music yang terbuat dari kayu dan bunyinya dapat mencapai nada-nada yang tinggi. Petrus kaseke adalah salah satu tokoh yang berhasil mempopulerkan Kolintang sejak dia kecil. Kolintang juga dapat dibuat sebagai music pengiring ritual-ritual agama kristen. Untuk memainkan kolintang dengan maksimal harus latihan dengan cara-cara yang kami sebutkan di atas tadi. Dan alat-alatnya meliputi melody,alto,ukulele,tenor, dll.


3.2 SARAN
Dengan dibuatnya makalah ini penyusun mengharapkan para pembaca bisa mengetahui,memahami, dan memainkan music kolintang. Untuk bisa memahami dan memainkan music kolintang di perlukan kekompakan dan latihan yang cukup bagus. Dan juga membutuhkan pikiran yang fresh agar tidak ada kesalah pahaman dalam memainkan karena kolintang itu dimainkan secara bersama. Kita boleh memainkan dan menyukai alat musiknya tapi jangan berpindah agama hanya karena sejarah music ini.



DAFTAR PUSTAKA




2 komentar:

  1. siapa pencipta alat musik kolintang....???
    nelwan katuuk,seorang tuna netra..atau bukan..?

    BalasHapus
  2. penulisan nama William punu,,itu salah,,yg benar William Punuh....

    BalasHapus